
Harga sudah kamu tetapkan sejak awal. Penjualan jalan, pesanan masuk setiap hari, dan di atas kertas semuanya terlihat baik-baik saja. Tapi begitu ada pesanan dari kota yang jauh, atau barangnya ternyata cukup berat untuk dikirim, angka yang tadinya terasa pas mendadak terasa tipis. Hal seperti ini bukan berarti kamu salah hitung di awal, kamu cuma belum menghitung semuanya.
Di artikel ini kamu akan lihat cara menyusun harga jual dari komponen biayanya satu per satu, dengan ongkos kirim ikut dihitung sejak awal, bukan ditempel belakangan setelah harga sudah diumumkan.
Kenapa harga jual sering ditetapkan sebelum biayanya lengkap?
Dua pola paling umum yang bikin harga jual meleset adalah harga ditetapkan dengan menyontek harga penjual lain di kategori yang sama, atau harga ditetapkan sekali di awal lalu tidak pernah ditinjau lagi meski biaya di sekitarnya terus bergerak. Di kedua pola itu, biaya yang menempel di tiap pesanan jarang didaftar lengkap.
Yang paling sering tertinggal adalah biaya yang tidak muncul di nota pembelian barang seperti kemasan, biaya platform atau pembayaran, kiriman yang gagal dan harus dikirim ulang, dan ongkos kirim yang kamu tanggung sebagian. Karena biaya-biaya ini tidak terlihat di satu tempat, mereka gampang terlewat saat harga disusun.
Langkah pertama yang konkret adalah mengumpulkan dulu semua komponen biaya per pesanan sebelum menghitung apa pun. Daftarnya kira-kira begini:
- Harga modal barang atau bahan baku.
- Biaya produksi atau perakitan, kalau produkmu melewati proses itu.
- Kemasan dan pelindung kiriman.
- Biaya platform atau biaya pemrosesan pembayaran.
- Ongkos kirim yang kamu tanggung, sebagian atau seluruhnya.
- Cadangan untuk kiriman gagal, retur, dan barang rusak di jalan.
Satu prinsip yang perlu kamu pegang bahwa yang dihitung di sini adalah biaya PER PESANAN, bukan biaya per bulan, karena harga jual menempel di satu unit barang, bukan di operasional bulananmu secara umum. Biaya rutin bulanan, seperti langganan alat, sewa tempat, atau gaji, tidak masuk ke daftar ini. Biaya itu tetap penting, tapi diperhitungkan terpisah supaya kamu tidak mencampur dua jenis biaya yang berbeda sifatnya.
Hampir semua komponen di daftar tadi nilainya relatif tetap per unit. Harga modal sama, kemasan sama, biaya platform biasanya berupa persentase tetap. Hanya ongkos kirim saja yang berbeda denga yang lainnya. Nilai ongkir berubah menurut berat kiriman, ukuran paket, jarak dan zona tujuan, serta ekspedisi yang kamu pakai. Kalau kamu memakai satu angka ongkir tebakan untuk semua pesanan, kamu sebenarnya sedang diam-diam menanggung selisihnya sendiri, terutama di kiriman jarak jauh dan barang berat.
Cara menutup celah ini di praktik lapangan cukup sederhana. Kenali dulu sebaran tujuan pesananmu selama ini, lalu hitung ongkir untuk tujuan yang paling sering dan tujuan yang paling jauh. Bandingkan beberapa ekspedisi untuk kombinasi berat dan tujuan itu, jangan mengandalkan satu ekspedisi saja, karena tarif tiap ekspedisi bisa berbeda cukup jauh untuk rute yang sama. Kalau volume pesananmu sudah besar, mengecek satu per satu secara manual di situs tiap ekspedisi jelas tidak realistis lagi.
Di titik ini, kebanyakan penjual mulai menghitung ongkir langsung dari sistemnya sendiri lewat API cek ongkir yang menampilkan beberapa ekspedisi sekaligus berdasarkan berat dan tujuan, jadi angkanya selalu mengikuti kondisi pesanan yang sebenarnya, bukan tebakan rata-rata.
Tiga cara menghitung harga jual dan kapan masing-masing cocok
Sampai di sini kamu sudah punya daftar biaya per pesanan plus cara mengunci komponen ongkirnya. Pertanyaan berikutnya adalah dari angka-angka itu, bagaimana kamu sampai ke satu harga jual? Ada tiga pendekatan yang biasa dipakai, dan masing-masing cocok untuk situasi yang berbeda.
1. Dari biaya ke atas
Jumlahkan seluruh biaya per pesanan dari daftar di atas, lalu tambahkan persentase tertentu di atasnya sebagai bagian untuk bisnismu. Pendekatan ini cocok untuk produk yang biayanya jelas dan relatif stabil dari waktu ke waktu. Perlu dicatat, menambahkan persentase itu bukan sekadar mengalikan angka secara asal. Persentase yang kamu pakai harus mempertimbangkan biaya rutin bulanan yang tadi sengaja tidak masuk daftar per pesanan, seperti sewa dan langganan alat, karena biaya itu tetap harus tertutup dari selisih antara harga jual dan biaya per pesanan.
Komponen ongkos kirim ikut menentukan seberapa besar biaya per pesanan yang dijumlahkan di sini, jadi cara kamu memilih ekspedisi juga memengaruhi hasil akhirnya. Pembahasan lengkapnya ada di 6 Faktor Pemilihan Jasa Kirim yang Menentukan Margin Toko Online.
Sebagai ilustrasi saja, bukan angka rata-rata industri, misalkan biaya per pesanan sebuah produk totalnya Rp50.000 (modal, kemasan, biaya platform, dan ongkos kirim yang kamu tanggung sudah dijumlahkan). Kalau kamu menambahkan 40% sebagai bagian untuk bisnismu, harga jualnya jadi Rp70.000. Angka 40% di sini murni contoh, bukan patokan yang berlaku untuk semua produk.
2. Dari harga pasar ke bawah
Mulai dari harga yang wajar di pasaran untuk produk sejenis, lalu periksa apakah biaya per pesananmu muat di dalamnya. Cara ini cocok saat produkmu punya banyak pembanding langsung, jadi kamu tahu rentang harga yang masuk akal di mata pembeli. Kalau ternyata biayamu tidak muat di rentang itu, keputusannya adalah menurunkan biaya, mengubah spesifikasi produk, atau memilih tidak menjual di harga itu. Bukan memaksakan harga tetap sama sambil menahan napas setiap ada pesanan yang jauh atau berat.
3. Berdasarkan nilai atau paket
Harga ditetapkan dari nilai yang dirasakan pembeli, bukan cuma dari biaya atau harga pasar. Biasanya lewat bundling beberapa produk, ukuran kemasan yang berbeda-beda, atau layanan tambahan di luar barang itu sendiri. Pendekatan ini cocok untuk produk custom atau produk yang tidak punya pembanding langsung di pasaran, sehingga sulit dibandingkan angka lawan angka.
Sebelum harga itu benar-benar dipakai, uji dulu ke tiga kondisi yang paling ekstrem, bukan ke kondisi rata-rata. Pertama, pesanan satu unit ke tujuan terjauh yang mungkin kamu layani. Kedua, produk terberat atau paling makan tempat di katalogmu. Ketiga, pesanan yang gagal kirim dan harus dikirim ulang. Kalau harga yang kamu susun masih masuk akal di tiga kondisi itu, harga itu cukup aman dipakai. Kalau tidak, yang perlu diperbaiki bukan cuma angka harganya, tapi juga kebijakan ongkir yang menyertainya.
Kebijakan ongkir yang menentukan harga akhirmu
Ada beberapa pilihan kebijakan ongkir, dan tidak ada satu yang otomatis paling benar untuk semua toko. Masing-masing punya konsekuensinya sendiri.
- Ongkir dibayar penuh oleh pembeli: harga produk bisa terlihat lebih bersaing di daftar, tapi angka di checkout melonjak saat ongkir ditambahkan.
- Ongkir ditanggung penjual dan sudah dilebur ke harga produk: harga terlihat lebih mahal di daftar, tapi checkout terasa ringan bagi pembeli.
- Gratis ongkir dengan minimum pembelian: mendorong pembeli mengisi keranjang lebih besar, tapi kamu perlu menghitung batas minimumnya dengan benar supaya tidak menombok.
- Ongkir flat per zona: sederhana untuk pembeli karena angkanya jelas di depan, tapi kamu yang menanggung selisihnya di zona yang sebenarnya lebih mahal dari angka flat itu.
Kebijakan ini harus kamu pilih sebelum harga diumumkan, bukan sesudahnya, karena keduanya saling mengunci satu sama lain. Cara kebijakan ini dijalankan di toko online kamu juga berbeda-beda tergantung platformnya, ada yang lewat plugin siap pakai dan ada yang butuh integrasi API sendiri, seperti dibahas di Plugin Ongkir vs Custom API: Integrasi Cek Ongkir ke WooCommerce dan Shopify.
Kapan harga perlu dihitung ulang
Harga yang sudah disusun dengan baik pun perlu ditinjau ulang saat kondisinya berubah. Beberapa pemicu yang jelas: tarif kirim berubah, harga bahan atau modal barang naik, komposisi tujuan pembelimu bergeser ke wilayah yang lebih jauh dari biasanya, biaya platform berubah, atau kamu menambah produk dengan ukuran dan berat yang jauh berbeda dari yang sudah ada. Daripada menunggu sampai terasa ada yang salah, lebih aman meninjau harga secara berkala dengan jadwal tetap, misalnya tiap beberapa bulan.
Dari semua komponen di atas, ongkos kirim tetap yang paling sering ditebak, bukan dihitung. Cara Integrasi Cek Ongkir ke Website via API Ongkir bisa jadi langkah lanjutan kalau kamu ingin angka ongkirnya dihitung otomatis dari sistemmu sendiri, bukan ditebak manual tiap kali menyusun harga.
Api Cek Ongkos Kirim dari api.co.id dibuat untuk mengunci komponen itu: menghitung ongkos kirim berdasarkan berat dan tujuan yang sebenarnya, lintas beberapa ekspedisi sekaligus, supaya kamu tidak lagi menyusun harga di atas angka kira-kira. Kamu bisa lihat cara kerjanya di halaman Api Cek Ongkos Kirim.






